Jumat, 22 April 2011

Pemain PSS Masih Terluka

22 April 2011
Agus "Grandong" Purwoko dkk bisa menghela nafas sejenak. Usai melakoni tur berat di Probolinggo dan Mojokerto, punggawa PSS Sleman dibebaskan dari latihan selama dua hari. Pasukan Elang Jawa akan kembali merumput di Stadion Maguwoharjo, Kamis (21/4/2011) besok.

"Anak-anak banyak terkuras fisik dan mental, karena permainan tim tuan rumah Persipro Probolinggo dan PSMP Mojokerto yang kasar dan keras," ujar Manajer Tim PSS, Rumadi, kepada Tribun Jogja, Selasa (19/4/2011).

Menurut Rumadi, dua laga tandang terakhir lalu adalah pertandingan berat bagi tim Elja. "Wasit lagi, wasit lagi. Setelah dikerjai di Probolinggo 0-4, kok diteruskan di Mojokerto lagi dengan skor 0-3. Akibatnya, anak-anak harus mengeroyok wasit," paparnya masih tampak geram.

Dari hasil dua laga tandang terakhir lalu, Rumadi sempat terlintas untuk berhenti mengurusi sepak bola. "Saya malah sempat males ngurusi bola lagi, setelah melihat wasit seperti itu," tuturnya.

Dari kejadian tersebut, Rumadi meminta dengan serius agar Badan Liga Indonesia (BLI) dan PSSI melakukan perubahan menyeluruh terhadap wasit yang bertugas memimpin kompetisi divisi utama.

Sabtu, 16 April 2011

Blog Melanda Slemania!!!

Akhir-akhir ini ada yg sedikit berbeda dari geliat anak2 slemania khususnya anak2 "Slemania Cyber". Dari yg awalnya mereka hanya melihat kabar PSS,mengisi guestbook atau forum di website resmi www.slemania.or.id hingga sekarang banyak bermunculan website-website pribadi mereka sendiri,atau yg sering disebut dengan blog.
Apa itu blog??Berikut seklumit mengenai blog.

Blog adalah kependekan dari Weblog, istilah yang pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada bulan Desember 1997. Jorn Barger menggunakan istilah Weblog untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu diupdate secara kontinu dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik disertai dengan komentar-komentar mereka sendiri.

Blog kemudian berkembang mencari bentuk sesuai dengan kemauan para pembuatnya atau para Blogger. Blog yang pada mulanya merupakan''catatan perjalanan'' seseorang di internet, yaitu link ke website yang dikunjungi dan dianggap menarik, kemudian menjadi jauh lebih menarik daripada sebuah daftar link. Hal ini disebabkan karena para Blogger biasanya juga tidak lupa menyematkan komentar-komentar''cerdas'' mereka, pendapat-pendapat pribadi dan bahkan mengekspresikan sarkasme mereka pada link yang mereka buat.

Dan berikut blog2 dari teman2 slemania.
• www.eljaholic.co.nr milik donpedro
• www.slemankita.co.nr milik afree
• www.superelja.co.nr milik noor arief
• www.slemaniatitikhitam.co.nr milik banu slemania titik hitam

Pada dasarnya ke-4 blog diatas mempunyai tujuan yg sama. Tapi kita akan menemukan perbedaannya ketika kita mengunjungi masin-masing blog tsb.

Dari dunia blog inilah.Biasanya para dedengkotnya (admin) banyak bercerita,tukar pikiran,dan saling membantu. Dari situlah mereka jadi bisa saling mengenal satu sama lain lebih jauh, Dari Afree, seorang blogger lama yg dalam aksinya banyak menggunakan HP(handphone), Don Pedro ,seorang blogger lama yg potensial, Noor Arief yg sebenarnya blognya udah lama tapi baru diurusin sekarang, sampai Banu titik hitam seorang blogger yg baru.

Pada prinsipnya kami(bloger) ada untuk melayani,memberi informasi,dan mendukung tim yg kami banggakan (PSS) tentunya.

Ya Semoga saja kehadiran kami (kaum bloger) dapat sedikit membantu rekan2 Slemania diseluruh dunia.Amiin..

BORN FROM CYBER WORLD LOYALTY SUPPORT ELJA

[afree_slemankita/re edited by donpedro]

NEXT MATCH!!!


  • PSMP
  • VS
  • PSS Sleman


Stadion Gajah Mada, Mojosari, Mojokerto
18 Apr 2011
15:30 WIB

Saatnya Bergerak Untuk Revolusi PSSI

22 February 2011
Beberapa hari yang lalu tim verifikasi bakal calon Ketua Umum PSSI memutuskan bahwa George Toisutta dan Arifin Panigoro gagal maju dalam pemilihan lantaran terganjal beberapa statuta PSSI. Sementara dua calon lainnya Nurdin Halid dan Nirwan D. Bakrie melenggang.

Dua nama terakhir pada periode 2007-2011 ini adalah pasangan ketua dan wakil. Sudah tentu mereka juga yang paling bertanggungjawab atas mandeknya prestasi timnas Indonesia dan berbagai kasus yang menodai kompetisi sepakbola kita, selain Noegraha Besoes tentunya, yang sudah bercokol di kepengurusan PSSI sejak 1983.

Berbagai kelompok suporter sudah menyatakan diri untuk membuat gerakan "Revolusi PSSI" yang tujuannya adalah untuk membuat otoritas tertinggi sepakbola Indonesia bisa lebih baik tanpa campur tangan Nurdin Halid dan kroni-kroninya yang sudah terbukti gagal namun masih memiliki hasrat untuk memimpin PSSI kembali.

Hari ini, Selasa (22/02), kelompok Save Our Soccer (SOS) di Jakarta berkumpul di KPK dan akan menduduki kantor PSSI Pusat di Senayan. Suporter Aceh juga melakukan demo di Banda Aceh. Pecinta bola di Solo menggelar aksi Revolusi PSSI dan menentang pencalonan kembali Nurdin Halid. Suporter bola di Semarang bahkan menginjak-injak foto NH sembari mengecam PSSI.

Di Tugu Jogja dan di nol kilometer hari ini terdapat berbagai elemen pecinta bola yang menggelar unjukrasa menentang NH dan desakan untuk merevolusi PSSI.

Sudah saatnya kita bergerak. Tak perlu terbang ke Jakarta. Kita bisa menyuarakan sekaligus mengintimidasi Pengda PSSI DIY yang sudah jelas mendukung pencalonan kembali Nurdin Halid agar mencabut dukungan mereka. Sepakbola Indonesia perlu pembaharuan untuk menuju masa yang lebih baik.

Slemania yang pernah disegani sebagai suporter yang besar tentu saja memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari gerakan Revolusi PSSI. Kita buktikan dari Sleman bisa membawa sepakbola Indonesia yang lebih baik.

Mengutip perkataan mbak Alissa Wahid di account twitternya @AlissaWahid "Bertindak belum tentu menyelesaikan semua. Tapi tidak bertindak sudah pasti tidak menyelesaikan apa-apa". Ayo kawan, saatnya kita BERGERAK MEREVOLUSI PSSI.

Liga Primer Indonesia, Untuk Sepakbola Indonesia Yang Lebih Baik

04 January 2011
Liga Primer Indonesia atau biasa disingkat LPI, tentu sudah banyak dari kita yang mendengar nama ini. Kompetisi baru yang digadang-gadang sebagai liga yang profesional dan bersih ini bakal menjadi warna baru sepakbola Indonesia.

Sesuai jadwal, liga ini bakal dimulai pada 8 Januari 2011 di Stadion Manahan Solo yang mempertemukan tuan rumah Solo FC menghadapi Persema Malang. Sebelumnya, Persema merupakan salah satu klub anggota Indonesia Super League (ISL), kompetisi resmi yang diakui oleh PSSI.

Meskipun dianggap sebagai kompetisi yang ilegal dan tidak diakui oleh PSSI, namun banyak pihak yang menaruh harapan bakal terwujudnya kompetisi sepakbola Indonesia yang bersih dan lebih baik dari LPI.

Kompetisi tandingan ini lumayan membikin PSSI murka, dan terutama khawatir. Bisa jadi PSSI khawatir apabila animo masyarakat bakal tersedot ke LPI, dan bukan ISL atau kompetisi lainnya yang resmi digelar oleh PSSI.

Wajar saja, karena LPI memang memberikan konsep yang menarik bagi klub, yaitu membentuk manajemen klub dan kompetisi yang ideal dan profesional.

Walapun ada berbagai ancaman dari PSSI tidak menyurutkan niat klub-klub untuk berkompetisi di LPI. Terbukti, ada tiga klub yang "berkhianat" dari kompetisi resmi PSSI dengan bergabung ke LPI, seperti Persebaya Surabaya, Persema Malang, dan Persibo Bojonegoro.

Menurut kabar yang beredar, Bontang FC dan Persela Lamongan bakal menyusul keluar dari ISL. Kemungkinan menunggu hasil dari manager meeting ISL hari ini.

Sebenarnya, PSS Sleman ada kesempatan untuk bergabung di LPI setelah berapa waktu lalu tim kebanggaan kita ini mendapatkan undangan dari LPI untuk bergabung. Tetapi entah alasan apa yang dikemukakan, PSS tetap pada pendirian untuk mengikuti kompetisi Divisi Utama PSSI.

Padahal, untuk menjadi klub yang profesional dan mandiri, kompetisi LPI sangat ideal bagi PSS, apalagi klub ini memiliki suporter yang fanatik dan banyak. Seperti yang kita tahu, setiap tahunnya PSS selalu mengemis dari dana APBD yang berarti juga membebani uang rakyat. Padahal prestasi klub kita ini setiap tahunnya juga biasa-biasa saja dan tidak memiliki target yang tinggi.

Mari kita cermati dan ikuti kompetisi Divisi Utama yang diikuti oleh PSS serta kompetisi LPI sebagai warna baru kompetisi sepakbola di Indonesia. Masih pantaskah PSS berlaga di kompetisi dengan kendaraan plat merah atau terjun di kompetisi yang profesional dan bersih.

Demi kemajuan sepakbola Indonesia. Masih ada harapan cerah bagi sepakbola Indonesia untuk menjadi juara.


Ferry Wiharsasto
Fans PSS Sleman dan timnas Indonesia

Suporter Bukan Politik, Kami Tak Perlu Koalisi

24 October 2010
Suporter kok pake koalisi..

Tadi sore saat melihat Pelita vs Persija di salah satu TV swasta, beberapa suporter PSS juga ikut menyaksikan dan memberikan dukungan langsung di Stadion Manahan Solo dan sempat tersorot kamera. Sekarang pertanyaannya, apakah saat laga PSS kandang maupun tandang mereka selalu hadir dan bernyanyi seperti yang dilakukan sore tadi? Kok sampe sebegitunya datang ke Solo cuma buat dukung klub lain atau sebenarnya mereka cuma tertarik dengan koalisi suporternya?



Semoga itu bukan berkoalisi, tapi hanya menemani. Seperti halnya saat PSS bertanding, banyak dari teman-teman suporter lain (jakmania, LA mania, Aremania dan ada beberapa suporter lain) yang terlihat di Stadion Maguwoharjo. Yang jadi permasalahannya adalah jika ada suporter penyusup seperti saat PSS menjamu Persib/Persebaya di Stadion Maguwoharjo beberapa saat yang lalu. Ada beberapa suporter lain (oknum berbaju orange) yang memprovokasi lewat tribun biru atas. Kalau terjadi apa-apa, yang kena tetap PSS.



Jika dilihat dari faktanya, memang sekarang "MEREKA" lebih bangga dengan koalisi suporternya, bahkan ada beberapa kelompok yang lebih suka memakai atribut koalisi. Dan mereka (anggota koalisi suporter) tersebut ikut memusuhi suporter lain yang menjadi musuh dari koalisinya, yang awal mulanya tidak mengerti awal permusuhan itu, dan mereka hanya ikut-ikutan menjadi musuh.



Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran mereka? apakah menjadi suporter hanya dijadikan tren? Atau mereka hanya "GLORY HUNTER" yang hanya mengejar kemenangan? Atau mereka hanya bangga dengan gembor-gembor motor saat berangkat atau pulang dari stadion.



Bagi saya menjadi suporter tidak butuh koalisi. Jak Mania dengan Slemania memang berteman, Aremania dengan Slemania juga berteman, tapi saya tidak perlu memusuhi Bonex atau Viking. Karena saya menjadi suporter hanya untuk mendukung PSS Sleman. Saya lebih bangga dengan LOGO PSS ada di baju saya, saya lebih bangga bersorak dan bernyanyi saat PSS bertanding didepan mata saya, saya lebih bangga melihat pasukan berbaju hijau walaupun ada dijurang degradasi, daripada melihat klub berbaju biru atau orange mengangkat tropi juara. Karena hanya PSS kebanggaanku

JEJAK ANAK-ANAK DALAM KELOMPOK SUPORTER

01 Januari 2011
“Pokoke nek aku ketemu uwong sing nganggo kaos ijo(slemania) meh tak bandem… “, kata itu terucap begitu saja dari mulut seorang anak kecil disebuah kampung di kecamatan Wirobrajan Yogyakarta. Barangkali umurnya tidak lebih dari 15 tahun, perkiraan saya sekitar 11 tahun. Anak itu masih ABG, tidak juga, bagiku itu masih anak-anak. Saya pikir dia belum terlalu lama dipisahkan dari air susu ibunya. Saya melihatnya sekali lagi, kelihatan cukup emosional, marah, namun satu hal yang tidak bisa disingkirkan bergitu saja dari raut wajahnya, innocent, ala anak-anak.

Satu diantara dua temannya, umurnya sebaya, menimpali. “Opo awak dewe gawe plinteng wae, ben iso cepet mlayu, ujarnya”. Aku tersenyum melihat tingkah polahnya. Mereka bertiga malu-malu setelah tahu jika aku memperhatikanya. Tak lama setelah itu anak-anak itu lagi-lagi berbisik, “ono cah slemania” sambil menunjuk-nunjuk motor yang aku pake siang itu. Maklum di motor yang aku pakai terdapat tas kecil bungkus kaos bertuliskan “I Love (tanda jantung hati) PSS” berwarna hijau yang aku beli beberapa waktu yang lalu dari salah satu teman slemania cyber. Tas itu sudah berganti fungsi sebagai tempat air minum anakku, atas ide anaku sendiri yang masih berumur 4 tahun.

Obrolan anak-anak itu mengingatkan masa kecilku dulu, sejak SMP aku tak pernah lepas dari sepakbola, tentu PSIM yang aku lihat waktu itu. Kebetulan saya lahir dan besar di sebuah kampung bagian selatan kota Yogyakarta, cukup 20 menit bersepeda menuju stadion Mandala Krida. Waktu itu belum ada Brajamusti, yang ada PTLM (Paguyuban Tresno Laskar Mataram) sebagai kelompok supporter satu-satunya di Yogyakarta. Agak mirip dengan obrolan anak-anak diatas, saya dan teman-teman merasa bangga jika berhasil meloloskan batu dan kelereng sebagai “amunisi” ketika kesebelasan lawan mengungguli PSIM atau wasit yang saya pandang berat sebelah, hanya sekedar itu, tidak lebih.

***
Petang itu, menjelang maghrib, derby antara PSS vs PSIM telah usai. Saya pulang melewati depan perumahan mewah di Kecamatan Depok Sleman. Sesuai aturan saya masuk melalui jalur lambat, jalur khusus sepeda motor. Di depan perumahan itu sangat ramai dengan banyak orang, info yang saya dapat baru saja ada dua orang berbaju Slemania dihadang dan dipukuli rombongan Brajamusti yang baru saja pulang dari stadion Maguwoharjo Sleman. Karena jalan macet, saya menghentikan sepeda motor. Parkir sejenak sambil memperhatikan situasi sekitar. Sekitar 5 meter didepanku, saya melihat rombongan 7 anak kecil dengan menggunakan sepeda onthel lengkap dengan atribut hijau Slemania. Tak ketinggalan bendera kecil yang ditautkan di bagian belakang sepedanya.

Rombongan anak kecil itu berkumpul dan mengelilingi satu diantara 7 orang tersebut. Terlihat satu anak itu menangis. Saya dekati, “ngopo je le?”, tanyaku penuh selidik. “niki lho pak, nangis soale wedi kalihan tiyang Brajamusti”, jawab salah satu anak. “wau wonten tiyang Slemania diantemi”, timpal yang lainya. “Trus niki nggih sedoyo ajrih ajeng wangsul teng griyo”, anak ketiga menyambung. “lha omahmu ngendi”, tanyaku. “niki sak rencang griyane teng Moyudan”, jawab mereka serempak. Saya berpikir anak-anak ini bener-bener militan, dari Moyudan bersepeda, hujan lagi.

Saya sarankan ke mereka, segera copot atribut kalau memang takut. Tak lama ketujuh anak-anak ini segera mencopot baju, bendera dan syal mereka dan ditaruh di sebuah tas kresek hitam. Dengan telanjang dada, mereka pamit ke aku. “pak matur nuwun nggih, kulo sak rencang ajeng wangsul teng Moyudan, mboten nopo2 mangkeh nek masuk angin, niki pun resiko slemania sejati pak, nuwun nggihhh…”, ujar salah satu anak. Saya terhenyak, tak habis pikir, ternyata sepak bola benar-benar bahasa universal.

Dua kasus ini begitu mengejutkan, minimal bagiku. Anak-anak telah menjawab sebuah perlawanan, tidak dalam konotasi negative. Perlawanan merupakan simbol keberanian ataupun simbol menghadapi situasi sekitar untuk kemudian menentukan sebuah sikap yang akan dilakukan. Semoga saya tidak salah menentukan pilihan kata. Bisa juga anak-anak tersebut, dengan kapasitas masing-masing, telah menunjukkan sebuah militansi. Militansi yang sering didengungkan oleh kelompok-kelopok supporter di Indonesia hingga saat ini.

Militansi, dalam kamus besar bahasa Indonesia kurang lebih mempunyai arti ketangguhan dalam berjuang menghadapi kesulitan atau berperang. Bersemangat tinggi, penuh gairah dan berhaluan keras. Militansi tidak ditawar-tawar lagi, ini sebuah resiko perjuangan yang harus dihadapi baik secara individu maupun kelompok. Militansi tidak berdiri sendiri, harus ada obyek, subyek dan predikat. Militansi adalah produk dari sebuah obyek yang berlawanan. Dalam sepakbola, apalagi derby telah memunculkan api-api militansi di kedua belah pihak.

Perseteruan kelompok supporter PSS dan PSIM, menurut catatan saya sudah sejak tahun 2004 telah memunculkan miltansi di kedua belah pihak, baik itu Slemania dan Brajamusti. Namun karena sepakbola merupakan bahasa universal, anak-anak pun ikut terlibat dalam konsep militansi ini. Sekelompok anak kecil di kecamatan Wirobrajan memaknai militansi dengan menggunakan peralatan “tempur” seperti batu dan plinteng. Mereka akan menyerang lawanya dengan alat-alat yang sudah disiapkan. Namun sekelompok anak-anak dari Moyudan melihat kesebelasannya bertanding dengan bersepeda onthel. Ketika mereka menemui kesulitan dan ketakutan dijalan kemudian menyelesaikanya dengan mencopot atribut dan pulang ke rumahnya dengan bertelanjang dada.

Sayangnya saya tidak mencoba “memotret” kedua kelompok anak-anak ini menjadi lebih dalam, lebih in depth. Saya hanya melihat permukaan saja. Namun bagi saya, ini merupakan kecenderungan, proyeksi sebuah sikap militansi dengan gaya masing-masing. Ini sangat dipengaruhi dengan style masing-masing kelompok supporter dalam mensikapi dan mendukung kesebelasan masing-masing. Pengurus Slemania, menurutku masih bisa mengendalikan anggotanya yang berjumlah ribuan. Sehingga bagi Slemania, menonton sepak bola merupakan sebuah tontonan murni. Konflik, saling lempar dengan supporter tamu jarang bahkan tidak terjadi di stadion Maguwoharjo. Secara otomatis, hal inilah yang juga ikut andil “mendidik” slemania menjadi supporter yang tidak paham situasi dan kondisi.

Saya pernah menolong seorang Slemania yang dihajar oleh sekelompok supporter Brajamusti di ring road utara, saya coba korek informasinya. “Kenopo koe lewat mbarengi rombongan Brajamusti”, tanyaku. Jawabnya amat singkat, “kulo niki mboten ngerti nek Brajamusti niku mungsuhi Slemania”. Kejadiannya tahun 2009, masih sangat fresh, belum ada setahun. Bagiku ini sangat fatal, seseorang tidak mengetahui situasi dan kondisi. Bagi dia (korban pemukulan tersebut) seluruh supporter sepakbola dianggap sama seperti Slemania. Anti anarki dan supporter sopan.

***

Dua kasus kelompok anak-anak tadi mencerminkan kondisi masing-masing kelompok supporter, namun demikian inilah salah satu contoh militansi yang berhasil ditunjukkan, tentu dengan cara dan gaya masing-masing. Saya yakin bahwa anak-anak ini tidaklah mendapatkan “pendidikan” dari masing-masing orang tuanya. Mereka hanya melihat lingkungannya, melihat perilaku masing-masing orang dewasa disekitarnya. Anak-anak itu sendirilah yang akan melakukan apapun seperti yang mereka lihat dengan mata mereka sendiri.

Saya salut, meski sekelompok anak-anak ini telah menunjukkan militansi untuk kesebelasan masing-masing, sesungguhnya anak-anak ini juga merupakan korban. Setiap konflik, perkelahian bahkan perang anak-anak merupakan korban yang sesungguhnya. Dalam hal ini, anak-anak di Wirobrajan telah belajar untuk berbuat kekerasan. Bibit-bibit permusuhan dan kekerasan telah tertanam di otak bawah sadarnya. Sedangkan anak-anak dari Moyudan telah melihat kekerasan didepan matanya sehingga rasa trauma itu akan terus terbayang diotaknya hingga besar nantinya.

Kemudian, apakah yang akan kalian cari dalam persetruan kedua kelompok suporter ini? Bagiku militansi tidak identik dengan kekerasan, militansi bukanlah ajang balas dendam. Namun kalau memang kekerasan jalan akhir dari perseturan ini, saya siap ada dibarisan paling depan.

Sebuah renungan kecil
@Sipey, manusia biasa, warga Karangkajen, sekarang tinggal di Sleman (adem dan ra sumpek) dulu pernah mengurusi Slemania Tjaboel (Tjabang Boelaksumur), beberapa kali memposting pendapat pribadi di web www.slemania.or.id